Day 15: ‘Bapak Musafir, Jangan Halangi Saya Beribadah’

Santai856 Views

GITULAH.COMPENGANTAR REDAKSI: Mulai Jumat (19/7/2024) seorang penjelajah bersepeda bernama Taufik Abriansyah memulai ekspedisi “Gowes ke Sabang, Gowes ke Marauke”. Sesuai judulnya, mantan wartawan Majalah Tempo ini berniat gowes ke ujung barat dan timur Indonesia dalam rangka mensyukuri nikmat Allah dan merayakan Indonesia. Mulai Senin (22/7) gitulah.com menurunkan ekspedisi tersebut. Selamat membaca.

Day 15

Semendo – Muara Enim

Pagi ini saya bangun jauh sebelum subuh. Suhu terasa sangat dingin. Tapi, saya tidak menarik selimut lagi. Saya memilih terus bangun karena badan sudah terasa segar. Saya periksa aplikasi pengukur suhu, ternyata di angka 21⁰C. Mirip dengan suhu rata-rata di tempat tinggal saya di Cipageran.

Saya lalu ke kamar mandi. Cuci muka dan berwudhu saja, karena untuk mandi airnya terlalu dingin. Lalu saya melipir menuju Masjid Akbar. Di luar masih sangat sepi. Baru ada satu ibu-ibu yang bersiap jualan gorengan.

Saat tiba di masjid, pas mulai adzan. Jamaahnya lumayan banyak. Meski hanya terisi dua shaf, saya perkirakan lebih dari 50 orang karena masjid cukup lebar. Tapi hampir semua jamaah adalah golongan sepuh. Jamaah perempuan terlihat lebih banyak. Rezeki saya, imamnya membacakan surat panjang, Surat As Sajdah. Plus Doa Qunut.

Saat keluar dari masjid, saya melihat ada meja makan lengkap dengan hidangannya. Wah, ada makan-makan. Tapi saya sudah terlanjur berjalan keluar.

Rupanya selepas Subuh hari itu berlangsung syukuran hari lahir majelis taklim ibu-ibu Masjid Akbar. Saya dengarkan sambil melangkah menuju rumah, acara berlangsung dalam bahasa Indonesia. Bukan Bahasa Semendo.

Tiba di rumah saya meneruskan menuliskan catatan. Lalu Heni menyilakan saya menikmati sarapan. Menunya adalah Kopi Semendo plus gonjing. Joss! Gonjing adalah makanan khas daerah ini. Mirip bandros kalau di Bandung.

Setelah hari makin terang, saya mulai merapikan barang-barang bawaan. Sepeda dikeluarkan dari dalam rumah yang juga menjadi apotek dan tempat pemeriksaan kesehatan itu. Sekitar jam 08.00 saya berpamitan. Heni membekali gonjing untuk nanti saya makan di jalan. Banyak banget.

Sebelum benar-benar meninggalkan Semendo saya mampir ke rumah Betty, salah seorang keluarga, yang rumahnya berdekatan dengan rumah Heni tempat saya menginap. Sebenarnya di Semendo ini banyak sekali kerabat. Tapi tidak mungkinlah saya kunjungi satu persatu.

Di rumah Betty selain bertemu suaminya, saya juga bertemu Nyai Yani (Nyai : nenek, salah seorang tetua keluarga yang masih ada). Betty memberi saya Kopi Semendo sebagai oleh-oleh.

Bergerak keluar dari Semendo ke arah Simpang Meo, saya mengayuh dengan perasaan riang. Bisa berkunjung kembali ke kampung halaman nenek moyang rasanya sesuatu banget. Apalagi dengan bersepeda. Jalannya sempit, berkelok-kelok, aspal mulus dan turunan membuat saya bisa melaju dengan cepat.Beberapa kali harus zigzag untuk menghindari jemuran buah kopi di tengah jalan. Warga sini memang punya kebiasaan menjemur buah kopi di jalan, biar dilindas mobil yang lewat. Tapi untuk ban sepeda, yang ada malah jadi terperosok kalau nekat melindas buah kopi yang dijemur itu.

Topik Lain :  Day 12: Karena Federal Kita Bersaudara

Beberapa kali ketemu hutan kopi ataupun semak belukar. Sengaja saya tidak nyetel speaker supaya bisa mendengar suara-suara hewan. Beberapa kali saya melihat kadal, belalang, dan ular, melintas di jalan. Yang repot adalah bila bertemu dengan anjing. Ada saja warga yang memelihara anjing. Mereka kerap menyalak dan membuntuti saya. Kalau masih seekor, saya masih tenang. Tapi kalau sudah 4 ekor, ya gentar juga.

Di dekat Pesantren Haromain, saya sempat disapa ibu-ibu yang sedang menjemur kopi.
“Mana kawan?,” tanyanya.
“Dewek an (sendirian),” jawab saya singkat.

Pemandangan yang cukup menarik saya temukan di Desa Panang Enim. Sepertinya sedang ada hajatan. Keramaian, kata orang sini. Di satu rumah saya lihat banyak sekali ibu-ibu. Ada yang sedang ramai-ramai menguliti ayam. Kearifan lokal, bergotong royong membantu orang hajatan rupanya masih berlaku di sini.

Sekitar jam 10.00 saya sudah tiba di Simpang Meo. Artinya hanya 2 jam saja saya menempuh jarak 33 km. Mampir lagi masjid At Tawwabin. Buang air kecil dan menyantap gonjing.

Sebentar saja beristirahat, saya kembali melanjutkan perjalanan. Masuk lagi jalan lintas Sumatra bertemu lagi berbagai kendaraan. Dan banyak tanjakan. Di beberapa desa, saya melihat kesibukan orang sedang memasang umbul-umbul. Suasana merayakan hari kemerdekaan sudah mulai terasa.

Menjelang jam 12.00 saya merapat di Masjid At Taqwa, Desa Penyandingan Enim. Hari ini adalah jumatan ketiga dalam perjalanan saya. Perut sudah mulai terasa lapar. Selesai jumatan saya mengayuh lagi. Melewati proyek strategis nasional PLTU Sumsel 8. Berhenti di sebuah warung makan rumahan yang menyediakan pindang. Semula saya kira pindang tulang, ternyata pindang ikan. Saya tambah dengan telor dadar untuk menambah selera. Karena lapar saya makan dengan lahap. Pemilik warung adalah ibu-ibu yang mengenakan cadar.

Saat hendak membayar, si ibu bercadar menolak dibayar.

“Tidak apa-apa pak, tidak usah bayar,” katanya.

“Wah jangan begitu bu. Ibu kan memang berjualan,” balas saya.

“Bapak kan musafir. Tugas saya memuliakan tamu musafir,” ujarnya.

“Alhamdulillah saya ada uang. Saya mau bayar saja,” saya bersikeras.

Topik Lain :  Sampai di Pulau Buton

“Bapak musafir. Jangan halangi saya beribadah,”

“Saya musafir yang masih ada uang. Nanti kalau sudah tidak punya uang lagi, saya mau kalau digratiskan.”

Alot juga karena kami pakeukeuh-keukeuh. Saya merasa belum pantas disebut musafir. Lagi pula warungnya juga warung biasa saja yang tidak terlalu ramai pembeli.

Akhirnya saya menawarkan jalan tengah. “Sudah bu supaya ada solusinya kita ambil jalan tengah. Saya bayar setengah,” kata saya.

Si ibu akhirnya setuju. Alhasil saya membayar Rp 12.000, dari Rp 24.000 nilai yang saya makan.

Sekitar jam 14.30 saya masuk kota Tanjung Enim. Suasananya terasa ramai. Bis dan mobil double cabin yang mengangkut karyawan Tambang Bukit Asam terlihat berseliweran. Di perempatan Jalan Ahmad Yani ke arah tambang Bukit Asam saya berhenti sebentar. Untuk ambil gambar. Di situ ada tulisan penanda kota Tanjung Enim.

Saya lalu beristirahat di masjid dekat situ. Ngadem. Di dalam masjid ada ibu-ibu sedang pengajian. Sambil ngaji, mereka memperhatikan saya yang kelihatan orang dari jauh. Saya cuek saja. Setelah shalat tahyatul masjid, saya nyender di pojok dekat colokan listrik.

Setelah ashar saya jalan lagi. Jarak ke kota Muara Enim, yang jadi tujuan saya hari ini kurang dari 10 km lagi. Saya bisa mengayuh dengan lebih santai karena yakin bisa finish sebelum maghrib. Sebelum gelap.

Di Muara Enim ini saya akan menginap di rumah Cek Evi. Saudara adik kakak nenek. Saya sudah pernah ke rumahnya beberapa tahun lalu.

Tapi sebelum tiba di rumah Cek Evi, saya mampir dulu ke rumah salah seorang saudara adik kakak nenek: Daeng Azizah alias Chicha. Jalan menuju rumahnya, saat di googlemaps, bisa mengambil jalan pintas melalui jalan bypass menuju Lahat.

Yang tidak saya sangka adalah treknya naik turun lagi. Lumayan tajam. Alhasil saya kesangan lagi. Tiba di rumahnya di Jalan Mayor Ruslan, Chicha ternyata masih di kantornya. Saya hanya bertemu dengan suami dan anaknya. Suami Chicha ternyata orang Bandung. Ciwastra tepatnya.

Tidak berlama-lama, saya lalu mengarahkan sepeda ke arah Kantor Polres Muara Enim. Di belakang kantor Polres itu lokasi rumah Cek Evi. Sekitar jam 17.00 saya sudah finish. Masih lumayan siang. Padahal jarak yang saya tempuh hari ini mencapai 87 km. Wah, cepat juga.

Bersama Kak Rusdi, suaminya Cek Evi, saya menyantap tekwan yang sudah disediakan di meja makan. Maknyus.

Jumat,  2 Agustus 2024

Taufik Abriansyah