PENGANTAR REDAKSI: Mulai Jumat (19/7/2024) seorang penjelajah bersepeda bernama Taufik Abriansyah memulai ekspedisi “Gowes ke Sabang, Gowes ke Marauke”. Sesuai judulnya, mantan wartawan Majalah Tempo ini berniat gowes ke ujung barat dan timur Indonesia dalam rangka mensyukuri nikmat Allah dan merayakan Indonesia. Mulai Senin (22/7) gitulah.com menurunkan ekspedisi tersebut. Selamat membaca.
Day 6
Bakauheni – Tarahan
Bangun pagi ini saya sempat linglung. Saat meraba tas pinggang, saya menyadari hape tidak ada di tempat. Tidak sampai panik, cuma saya membayangkan berbagai kerepotan yang akan terjadi bila touring ini tanpa memegang hape.
Saya lalu duduk supaya benar-benar terjaga, baru sekitar pukul 05.00.
Sebagian goweser yang tergeletak di lantai dasar Masjid BSI itu masih tidur pulas.
Setelah itu saya mengingat-ingat kira-kira di mana hape saya berada. Mata saya meluaskan pandangan ke seluruh area itu.
Ahaay, baru ingat saat mata tertuju ke konter tempat ngecas hape. Semalam sesaat sebelum tidur, saya sempat ngecas hape saya. Saya bergegas menuju tempat itu. Benar saja hape saya ada dalam keadaan dicas. Alhamdulillah tidak jadi hilang.
Lalu adzan Subuh terdengar. Bersamaan dengan itu banyak goweser yang terbangun. Kami pun bergegas mengambil wudhu dan naik ke lantai atas, tempat shalat dilaksanakan. Ternyata sudah ada puluhan goweser lain yang sudah berada di area shalat. Kami pun subuh berjamaah.
Pagi ini saya tidak perlu repot masak air untuk menyeduh kopi. Panitia sudah menyediakan kopi, teh, plus berbagai rebusan untuk sarapan. Saya makan pisang dan ubi rebus supaya cukup tenaga untuk gowes pagi ini.
Dari yang sudah saya pelajari, segmen antara Bakauheni ke Tarahan akan menjadi ettape terberat dalam seluruh perjalanan touring saya kali ini.
Sekitar pukul 07.30 panitia mengarahkan kami berkumpul di area parkir. Kami akan foto bersama dengan latar belakang Menara Siger. Ada rarusan sepeda federal (lengkap dengan gembolannya) saat itu. Rasanya keren banget.
Merapikan ratusan federalist ini bukan perkara mudah. Masing-masing sibuk mengambil foto untuk kenang-kenangan ataupun bercengkerama karena baru ketemu pagi itu.
Salah satu ciri khas federalist ini adalah solidaritasnya yang tinggi. Apalagi yang pernah saling mengunjungi. Saya sendiri pernah beberapa kali mengalaminya.
Baru sekitar pukul 08.00 kami akhirnya bergerak meninggalkan Menara Siger. Dilepas secara resmi oleh Kepala Desa Bakauheni, Sukirno. Ratusan sepeda federal kemudian beriringan menuju Tarahan.
Seperti yang saya duga, beberapa kilometer segmen pertama medannya sangatlah berat. Hampir 10 km pertama kontur jalannya nanjak. Bahkan di satu kilometer pertama tanjakannya sangat tajam. Benar-benar menguras tenaga.
Peleton besar yang berisi ratusan pesepeda mulai terpecah-pecah. Adalah hukum alam, yang tenaga kuat terus melaju melahap tanjakan demi tanjakan, sementara yang tenaganya pas-pasan tercecer jauh di belakang. Saya berada di kelompok ini. Lumayanlah. Meski mengayuh dengan pelan, masih saya anggap bagus ketimbang harus dievakuasi.
Lewat dari KM 10 barulah ketemu turunan dan jalan mendatar. Beberapa kilometer kemudian ketemu lagi tanjakan. Panjang. Begitu terus.
Sepanjang Bakauheni – Tarahan ini tidak ada lagi hutan lebat yang saya lihat saat masih kecil. Hutannya kini sudah berganti menjadi kebun jagung. Sayangnya terlihat kering.
Di kiri kanan jalan sudah berupa kebun tanaman atau rumah-rumah penduduk yang buka usaha rumah makan, tempat tambal ban, atau jualan pulsa.
Masuk kota Kalianda yang merupakan ibu kota Kabupaten Lampung Selatan, ada pitstop di Gedung Olahraga sebagai tempat istirahat. Panitia menyediakan air mineral dan pisang yang bisa dinikmati. Ada juga tim medis yang stand by.
Saya sempat memeriksa tensi darah. Ternyatata lumayan tinggi. Di angka 160. Petugas lalu memberi saya obat amlodipine untuk saya konsumsi.
Sejak mendekati kota Kalianda, saya gowes berdekatan dengan Pak Teguh Tjokro. Anggota Fedtangs yang saya kenal saat touring ke Malaysia tahun lalu. Karena sudah kenal lama, kami sudah bisa menyesuaikan kecepatan dan gaya gowes masing-masing.
Setelah sejenak ngaso di pitstop 1, saya melanjutkan perjalanan. Pak Teguh ada di belakang saya. Matahari makin tinggi, dan teriknya makin menjadi-jadi.
Sekitar jam 12, kami merapat ke Masjid Baiturrahim di Desa Gunung Terang. Neduh dulu sekaligus shalat Dzuhur. Duduk di teras masjid itu rasanya nyaman nian. Tiupan angin kencang di tengah terik seperti itu, kantuk pun datang. Saya dengan Pak Teguh lalu tidur dengan perjanjian jam 13.30 akan jalan lagi.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 13.30, panas ternyata masih sangat menyengat. Kami pun melanjutkan tidur hingga pukul 14.00.
Setelah itu kami mengayuh lagi. Perut mulai keroncongan tanda minta diisi. Kami lalu mampir di warung makan Naura, beberapa ratus meter dari masjid.
Warungnnya murah meriah. Bukan nasi Padang , tapi harganya serba Rp 12 ribu. Si ibu keheranan mendengar cerita saya bahwa sudah 5 hari gowes dari Bandung. “Allahu akbar. Jauh banget,” teriaknya.
Usai makan, saya dan Pak Teguh kembali mengaspal. Kontur jalan belum berubah. Naik turun tapi kebanyakan tanjakan ketimbang turunan. Ditambah panas menyengat pula.
Di KM 55 dari Bakauheni ada Tugu Topeng yang dijadikan pitstop 2. Di situ ada deretan warung tempat menjual aneka makanan dan minuman. Ada juga masjid tempat kami melaksanakan Shalat Asar.
Beberapa meter sebelum tiba di Tugu Topeng, sepeda saya sempat mengalami masalah. Tiba-tiba sepeda tidak mau digerakkan. Ban tidak berputar. Wah kacau, pikir saya.
Waktu saya periksa, ternyata lengan baju jersey Fedkoci yang tadi saya sampirkan di bagasi belakang, melorot ke bawah. Nyelip ke sproket. Untungnya masih gampang dicopot, dan ban bisa berputar lagi. Alhamdulillah.
Selepas pitstop 2, jersey Fedkoci itu saya kenakan lagi. Karena saya tahu sebentar lagi akan tiba di tempat acara *Jamnas MTB Federal Indonesia di Pantai Selaki, Tarahan.* Saya ingin masuk ke arena Jamnas dengan memakai jersey Fedkoci.
Di kilometer 66 sejak start, saya ketemu turunan yang sangat tajam. Harus ekstra hati-hati mengendalikan sepeda. Saya berkali-kaki melepas dan menekan rem agar laju sepeda tidak terlalu kencang.
Di kawasan ini sering sekali terjadi kecelakaan. Jalannya memang turun tajam dan di hadapan ada pemandangan laut yang membentang. Mungkin banyak pengemudi yang meleng melihat laut sehingga kehilangan konsentrasi.
Saat meluncur di turunan itu, dari kejauhan saya melihat beberapa goweser berhenti untuk mengambil foto. Saya pun ikutan. Sayang sekali kalau melewatkan kesempatan ini. Walaupun ini agak berbahaya. Saat start tadi panitia sudah menghimbau untuk tidak berhenti berfoto-foto di turunan Tarahan.
Sebentar saja saya di tempat itu. Yang penting ada dokumentasinya. Saya segera meluncur lagi. Kira-kira satu kilometer saya belok kiri. Masuk ke jalan tanah menuju kawasan wisata Pantai Selaki. Sekitar jam 17.00 saya tiba di meja registrasi. Alhamdulillah. Tabik pun! Salam khas masyarakat Lampung.
Rabu, 24 Juli 2024
Tuafik Abriansyah






