Regenerasi Jadi Kunci, PB Woodball Target Pertahankan Peringkat Dunia

Olahraga128 Views

JAKARTA – Pengurus Besar Perkumpulan Woodball Indonesia (PB IWbA) menegaskan regenerasi atlet sebagai kunci utama menjaga dominasi Indonesia di kancah internasional. Ketua Umum PB IWbA, Aang Sunadji, menekankan pentingnya keselarasan program antara pusat dan daerah dalam membangun prestasi berkelanjutan.

Keselarasan program disebut Aang menjadi bagian penting antara pusat dan daerah sehingga tidak berseberangan dan saling menguatkan. “Banyak atlet muda sudah siap tampil di kejuaraan dunia. Ini yang harus dijaga agar prestasi woodball Indonesia di level dunia tidak terputus,” ujar Aang, dalam Rapat Anggota PB IWbA 2026 bertema ‘Regenerasi Kuat, Prestasi Hebat’ di Kantor NOC Indonesia, Senayan, Jakarta, Selasa (12/5).

Menurutnya, hasil konsolidasi dan keselarasan yang selama ini dilakukan telah berjalan dengan baik dan membuahkan hasil nyata, terutama dalam melahirkan generasi baru atlet woodball Indonesia. Jika sebelumnya didominasi atlet senior, kini regenerasi mulai terlihat signifikan dengan munculnya atlet-atlet muda dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.

Saat ini, atlet-atlet Indonesia masih mendominasi lima besar ranking dunia woodball. Di kategori putra, Ahris Sumariyanto berada di puncak, disusul Susilo Marga Nugraha di urutan keempat dan I Putu Ari Kuncoro yang ada di peringkat kelima. Sedangkan untuk kategori putri, Siti Masitah menempati peringkat satu dan Finda Tri Setianingrum di peringkat kedua. Capaian tersebut menjadi dasar optimisme PB IWbA untuk mempertahankan posisi puncak peringkat dunia tetap dihuni atlet Indonesia, meskipun terjadi pergantian generasi atlet.

Selain pembinaan, PB IWbA juga menyoroti pentingnya standar teknis pertandingan, khususnya terkait
kondisi lapangan. Evaluasi dilakukan menyusul hasil yang belum maksimal di ajang multi-event seperti SEA Games. Hasilnya, Indonesia akan mendorong standarisasi lapangan dalam forum General Assembly International Woodball Federation pada November mendatang di Taiwan.

“Standar lapangan harus jelas agar kompetisi berlangsung adil, terutama untuk kondisi lapangan yang tidak rata. Sebab itu, kami akan menyuarakan ini ke Federasi Internasional nanti supaya hasilnya bisa adil untuk semua,” jelas Aang.

Woodball Indonesia. Foto: NOC Indonesia

Sementara itu, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari, mengapresiasi perkembangan woodball Indonesia yang tetap berprestasi meski belum menjadi olahraga populer. Okto, sapaan karib Raja Sapta Oktohari, menegaskan pentingnya peran aktif pengurus dalam pembinaan serta diplomasi internasional untuk menjaga eksistensi woodball di multievent, bahkan mendorong peluang masuk ke Asian Games.

“Woodball mungkin belum familiar, tapi mampu konsisten menyumbang prestasi di level internasional. Ini bukti kerja federasi berjalan baik. Kita harus proaktif, baik dalam pembinaan maupun di level internasional, agar kepentingan Indonesia terus terjaga,” tutup Okto.