BI Perkuat Pengelolaan Cadangan Devisa Hadapi Gejolak Global

Ekonomi19 Views

JAKARTA – Ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan diperkirakan masih meningkat. Dalam situasi ini, Bank Indonesia (BI) menerapkan paradigma investasi baru dalam pengelolaan cadangan devisa, yang sesuai dengan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

BI akan melakukan pengelolaan cadangan devisa secara lebih adaptif dan berhati-hati, didukung pemanfaatan teknologi yang relevan guna memperkuat kepercayaan investor sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan di tengah dinamika global.

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, mengungkapkan penerapan paradigma baru dalam pengelolaan cadangan devisa tersebut mendukung sinergi kebijakan nasional yang transformatif melalui nilai tukar yang stabil dan resiliensi sektor eksternal. “Sinergi ini mencerminkan kesamaan visi dan langkah kebijakan yang terarah untuk mendorong transformasi ekonomi nasional, dan ke depan perlu terus diperkuat,” tegas Aida dalam seminar internasional Forum Investasi Tahunan (FIT) Bank Indonesia 2026 bertema ‘Beyond the Old Playbook: Embracing a New Paradigm in Global Investment’, pada 29–30 Januari 2026, di Bali.

Terkait paradigma tersebut, Aida menjelaskan BI terus mengelola cadangan devisa dengan memerhatikan perkembangan suku bunga global, nilai tukar dolar AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS guna menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas perekonomian nasional.

Selanjutnya, Aida menguraikan guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi pada 2026-2027, pemerintah dan bank sentral memperkuat bauran kebijakan melalui lima sinergi strategis. Sinergi tersebut meliputi stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan; percepatan hilirisasi industri; penguatan ekonomi kerakyatan; peningkatan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan; serta akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional yang didukung kerja sama bilateral dan regional.

Bersamaan dengan itu, sambung Aida, BI juga terus mengimplementasikan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta pengembangan UMKM dan ekonomi syariah guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Perekonomian Indonesia, sampai saat ini, masih tetap dipandang memiliki prospek investasi yang solid dan atraktif, dengan peluang mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2026–2027. Global Head of Asset Allocation, Invesco, Paul Jackson, dalam kesempatan yang sama menyampaikan ekonomi Indonesia dinilai menunjukkan ketahanan yang baik. Menurutnya, pengelolaan cadangan devisa yang berhati-hati dengan pendekatan investasi yang lebih adaptif menjadi kunci menjaga stabilitas di tengah volatilitas global.