Gubernur BI Perry Warjiyo Soroti Tantangan Ketergantungan pada Mata Uang Dominan

Ekonomi256 Views

GITULAH.COM – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyoroti risiko dan kerentanan stabilitas di kawasan ASEAN+3 (sepuluh negara Asia Tenggara, Cina, Jepang, dan Korea). Salah satunya, tantangan ketergantungan yang besar pada mata uang dominan tertentu untuk perdagangan internasional dan penyelesaian investasi.

“Tantangan tersebut dapat meningkatkan kerentanan dan meningkatkan risiko stabilitas keuangan di ASEAN+3,” ungkap Perry dalam keterangan pers bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara Anggota ASEAN+3, Rabu (3/5), di Incheon, Korea Selatan.

Menghadapi tantangan itu, Perry menegaskan ASEAN+3 perlu berinovasi untuk menjaga stabilitas, di tengah inflasi yang masih tinggi, kondisi likuiditas yang lebih ketat, ruang kebijakan yang lebih sempit, dan pengaruh kuat dolar AS. Dalam kondisi ini, Perry menekankan pentingnya memperkuat dan meningkatkan kerja sama di antara negara-negara ASEAN+3 dalam konektivitas pembayaran dengan mempromosikan penggunaan mata uang lokal yang lebih luas untuk transaksi. Berkaitan dengan hal tersebut, menteri keuangan dan gubernur bank sentral di kawasan menyambut baik dan mengakui perkembangan kajian Sistem Pembayaran Lintas Batas di ASEAN+3, khususnya mengenai Penguatan Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transactions – LCT).

Topik Lain :  Bank Indonesia dan Bank of Korea Sepakat Transaksi Gunakan Mata Uang Lokal

Kawasan ASEAN+3 diperkirakan masih akan mengalami pertumbuhan cukup kuat. Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 tetap kuat sebesar 3,2 persen pada tahun 2022, terlepas dari efek pandemi COVID-19 yang masih ada dan konflik Rusia-Ukraina yang meningkat menjadi krisis. Sementara itu, gejolak sektor perbankan baru-baru ini di AS dan Eropa memiliki dampak rambatan yang terbatas di kawasan ASEAN+3. “Meskipun demikian, kita harus tetap waspada. Ke depan, kawasan ini diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2023, dipacu permintaan domestik yang kuat karena pemulihan ekonomi terus menunjukkan perbaikan,” jelas Sri Mulyani.