Ini Pengakuan Ginting dkk yang Gagal di Final Piala Thomas 2024

Arena61 Views

GITULAH.COM — Tim Piala Thomas Indonesia harus puas di tempat kedua setelah pada partai final kejuaraan bulu tangkis beregu putra dunia 2024 tumbang di tangan tuam rumah Cina 1-3 di Chengdu, Cina, Minggu (5/5).

Berikut pengakuan Anthony Ginting dan kawan-kawan usai partai final tersebut, dikutip dari laman resmi PP PBSI:

Anthony Sinisuka Ginting:
Dari awal memang sampai pertandingan selesai, saya tidak bisa keluar dari tekanan Shi Yu Qi. Cara mengatasi kondisi di lapangan juga tadi saya tidak menemukan yang tepat. Saya sudah mencoba.

Tidak ada tekanan dari penonton atau karena ini final, murni karena cara bermain di lapangan saja kendalanya apalagi dia juga bukan lawan yang mudah.

Dibandingkan saat menang di World Tour Finals lalu, sangat berbeda semuanya penampilan Shi Yu Qi hari ini. Saat kondisi bagaimana, harus bagaimana-nya itu dia lebih cermat.

Muhammad Rian Ardianto:
Memang beberapa kali bahkan tiga pertemuan terakhir melawan Liang/Wang, kami sudah unggul tapi kurang bisa memanfaatkan. Mereka lebih berani dan lebih cerdik dalam mendapatkan poin-poin ketika posisinya sedang kejar-kejaran, lalu ketika sudah unggul mereka balik mengontrol pertandingan.

Fajar Alfian:
Kami hanya fokus memikirkan pertandingan ini, tidak terpengaruh hasil partai pertama. Kami mau menyumbang poin tapi sayangnya belum berhasil.

Liang/Wang pertahanannya sangat luar biasa, beberapa kali harusnya kami poin tapi mereka bisa membalikkan. Selain itu, servis dan pengembalian servisnya sangat yakin dan berani.

Wang Chang memang bisa mengubah ritme permainan di poin-poin kritis. Kadang-kadang pelan, kadang-kadang cepat dan lawan sering sulit mengantisipasi.

Jonatan Christie:
Puji Tuhan karena posisi tertinggal 0-2 tidak mudah. Teringat lagi momen Piala Thomas dua tahun lalu, di posisi yang sama tapi saya tidak mau kembali jadi penentu kekalahan. Saya mau membangkitkan semangat teman-teman jadi saya berharap Bagas/Fikri semangatnya bisa berlipat ganda lagi, mudah-mudahan bisa mengambil poin. Chico juga demikian.

Topik Lain :  PSSI Bahas Percepatan Tranformasi dan Digitalisasi Perwasitan

Li Shi Feng dengan dukungan penonton tuan rumah, dia juga ingin menjadi penentu kemenangan dan dia juga ingin menampilkan yang terbaik. Saya berusaha untuk melawan hal tersebut demi kebanggaan bangsa saya. Itu jadi bahan bakar saya hari ini.

Memang tadi saya melakukan servis dan dia sudah mengembalikannya tapi dianggap umpire belum siap. Setahu saya aturannya selama bola sudah dipukul harus tetap berjalan permainan. Tapi saya coba fokus lagi saja.

Bagas Maulana:
Kecewa pastinya karena kami belum berhasil upgrade medali dari dua tahun lalu.

Pasangan China bermain sangat cepat, kami tidak bisa mengimbangi drive-drive mereka padahal sudah coba mengadu. Banyak mengangkat bola pun bukan pilihan yang tepat.

Muhammad Shohibul Fikri:
Semua tim dan kami juga sudah berusaha menyusul ketertinggalan hanya memang belum bisa keluar dari tekanan.

Ini menjadi pelajaran berharga dan pengalaman karena kami baru pertama kali turun di final Piala Thomas.

Beban pasti ada tapi kami harus mengatasi hal itu. Tadi juga kami coba serileks mungkin saat masuk lapangan, main saja seperti biasa. Menampilkan yang terbaik. Tetapi lawan juga turun dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi.

Indonesia 1-3 Cina
MS1: Anthony Sinisuka Ginting vs Shi Yu Qi 17-21, 6-21
MD1: Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto vs Liang Wei Keng/Wang Chang 18-21, 21-17, 17-21
MS2: Jonatan Christie vs Li Shi Feng 21-16, 15-21, 21-17
MD2: Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri vs He Ji Ting/Ren Xiang Yu 11-21, 15-21
MS3: Lu Guang Zu vs Chico Aura Dwi Wardoyo (tidak dimainkan)