Surplus Neraca Perdagangan Januari 2023 Merosot

Ekonomi165 Views

GITULAH.COM – Neraca perdagangan Indonesia sering mengalami fluktuasi. Tahun ini pun diperkirakan bakal terkena tekanan. Faisal Rachman, ekonom Bank Mandiri, mengemukakan surplus neraca perdagangan RI bisa turun menjadi 3,43 miliar dolar AS pada Januari 2023 dari angka sebelumnya pada Desember 2022 sebesar 3,89 miliar dolar AS.

Faisal menuturkan, perubahan ini bisa terjadi karena melemahnya permintaan global dan harga komoditas. Satu yang turut memengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan adalah pertumbuhan ekspor secara bulanan yang diperkirakan akan terkontraksi. “Kami memperkirakan ekspor Indonesia pada 23 Januari akan berkontraksi sebesar minus 10,87% secara bulanan (mom) karena penurunan harga komoditas, terutama batu bara,” jelas Faisal, Selasa (14/2/2023).

Apabila dilihat secara tahunan, menurut Faisal, ekspor akan tumbuh 10,76% yoy di tengah low-base effect dari larangan ekspor batu bara 2022 lalu. Ekspor pada Desember 2022 meningkat 6,6% yoy.

Impor juga diprediksi akan terkontraksi pada Januari 2023 atau mencapai minus 10.36% mom. Secara tahunan, angkanya bisa mencapai minus 2,23% yoy. Dengan demikian, secara keseluruhan neraca transaksi berjalan akan berubah menjadi defisit sekitar 1,10% dari produk domestik bruto (PDB) 2023.

Pada 2022, neraca transaksi berjalan surplus 1,05% dari PDB. “Kami melihat pertumbuhan ekspor akan melambat karena harga komoditas yang menurun, didorong oleh permintaan global yang lesu,” katanya.

Meski diproyeksikan menyusut, menurut Faisal, surplus perdagangan bisa bertahan lebih lama sebelum berubah menjadi defisit. “Karena kita melihat bahwa penurunan harga komoditas akan lebih bertahap setelah Tiongkok membuka kembali perekonomiannya,” kata Faisal.

Impor diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor pada 2023 karena permintaan domestik akan terus menguat, menyusul pencabutan PPKM pada akhir 2022 dan keputusan untuk melanjutkan Proyek Strategis Nasional. Akan tetapi, pertumbuhan impor pada 2023 terlihat melemah dari pertumbuhan 2022. Ini terjadi karena harga minyak yang lebih rendah dan antisipasi penurunan ekspor. Sebagian bahan baku untuk memproduksi barang ekspor diperoleh dari impor. *

Topik Lain :  Fakta Ekspor dan Impor Indonesia hingga September 2023