Mendadak Ketemu Risma, Arti Tak Menyangka Dapat Bantuan

Humanika145 Views

Matahari sedang tampil garang. Sapuan awan yang tak seberapa membuat terangnya memanaskan kota Sragen, Jawa Tengah.

Seolah tak terpengaruh dengan terpaan panas sinar matahari, Arti, seorang perempuan pemulung menyusuri tepian jalan tak bertrotoar, di Jalan Raya Sukowati Timur, Ngrampal — sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Sragen. Arti mendorong pelan sepedanya, dengan tumpukan barang bekas di boncengan belakang.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara perempuan lain yang berlari di belakangnya. Suara itu makin dekat, membuatnya harus menoleh sambil masih mendorong sepeda. Langkahnya baru berhenti setelah perempuan tadi serta beberapa orang berdiri mengelilinginya.

Pundi bojone njenengan (mana suamimu)?” kata perempuan tadi sambil dikelilingi beberapa orang. Arti menatap sejenak. Ia merasa seperti kenal. Beberapa menit dia mulai sadar, perempuan yang bertanya adalah Menteri Sosial Tri Rismaharini. Rasa haru mulai terasa di hati Arti. Dengan suara sedikit bergetar, ia menjawab dengan suara lirih.

Bojo kulo sok kerjo ngeten niki (suami saya juga kerja seperti ini),” kata Arti.

Sampeyan sedinten pinten ngeten niki? (Kamu sehari dapat uang berapa dengan kerja seperti ini?),” Mensos Risma.

Nggih mboten nentu, kadang 30 ewu. Kadang 20 ewu. (Ya tidak tentu, kadang Rp30 ribu, kadang Rp20 ribu)” kata Arti.

Kalih bapake gaweane oleh piro? (Kalau bekerja menjadi pemulung bersama dengan suami bisa dapat berapa?),” tanya Mensos Risma lagi.

Enten 30, sok nggeh 50, nggeh mboten mesti bu. (Bisa dapat 30 ribu, kadang 50 ribu, ya tidak pasti bu),” ungkap Arti

Mensos Risma lalu bertanya apakah Arti sudah mendapatkan bantuan pemerintah. Lalu, perempuan berusia 36 tahun itu menjawab.

Topik Lain :  Buku 'Sang Pendobrak 22 Cerita Dibalik Berita' Diluncurkan

Dereng bu (belum bu),” kata warga Desa Plumbon, Kecamatan Sambungmacan, itu sambil menggelengkan kepala.

Mensos Risma kemudian meminta stafnya untuk melakukan asesmen terhadap Arti. Dengan arahan agar Arti bisa mendapatkan bantuan sosial dari Kementerian Sosial.

Selepas bertemu Mensos, Arti kembali diliputi rasa haru. Pertemuan di siang bolong yang sungguh tidak disangka-sangka.

Bertemu pejabat negara, di tengah jalan, lalu diberikan bantuan. Sungguh sulit bisa dibayangkan. Maka ia juga sulit merumuskan kata-kata saat dimintai menjelaskan perasannya. Sambil setengah terbata-bata, ia menyatakan rasa senang. “Alhamdulillah, Alhamdulillah. Matur nuwun sanget. Mpun ditemoni disukani bantuan. Mugi Bu Menteri sehat, mugi sedoyo sehat (Alhamdulillah, Alhamdulillah sudah ditemui lalu juga diberi bantuan. Semoga Bu Mensos sehat, semuanya sehat),” kata Arti.

Pertemuan tersebut sebenarnya tidak direncanakan. Mensos Risma dan rombongan baru saja selesai santap siang di sebuah restoran di dekat pertemuan dengan Arti. Usai santap siang, saat bersiap memasuki kendaraan dinas, Mensos Risma mendapati Arti mendorong sepeda dengan barang bekasnya tertambat di boncengan. Maka terjadilah perbincangan tadi. Mensos berada di Sragen untuk menyambangi dua keluarga yang anggotanya kedapatan gantung diri. Masing-masing adalah Ar (40) dan SLAS (6) warga Dukuh Grasak, Desa Gondang, Kecamatan Gondang. Kejadian kedua gantung diri terjadi pada S (30) warga Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung. Pelaku gantung diri berikutnya adalah S yang meninggalkan istrinya RH (34 tahun), seorang anak perempuan KA (6 tahun) dan anak laki-laki AR (4 tahun). Soal ini, Mensos Risma memberikan penguatan dan motivasi serta bantuan kewirausahaan agar keluarga yang ditinggalkan bisa melanjutkan kehidupannya.